Maret 19, 2026
Potret pelajar Indonesia. Foto: Antara

Lomboknusa.id, Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan ratusan ribu pelajar di Indonesia terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental. Berdasarkan hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) tahun 2025, tercatat sebanyak 363.326 pelajar mengalami gejala depresi dan 338.316 pelajar menunjukkan gejala kecemasan.

Data tersebut diperoleh dari skrining kesehatan jiwa terhadap sekitar 27 juta penduduk di berbagai kelompok usia. Hasilnya menunjukkan bahwa prevalensi gejala depresi dan kecemasan pada anak dan remaja tercatat lima kali lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa dan lansia. Temuan ini menjadi sinyal kuat bahwa persoalan kesehatan mental pada pelajar perlu mendapat perhatian lebih serius.

Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes, Asnawi Abdullah, menyampaikan bahwa peningkatan temuan kasus ini bukan semata menunjukkan lonjakan gangguan mental, melainkan juga hasil dari perluasan skrining dan deteksi dini yang lebih masif. Menurutnya, selama ini banyak kasus gangguan psikis baru teridentifikasi ketika sudah memasuki tahap yang cukup berat.

Ia menegaskan bahwa pemerintah tengah mendorong perubahan paradigma dalam penanganan kesehatan mental. Jika sebelumnya pendekatan lebih banyak bersifat kuratif, kini langkah promotif dan preventif mulai diperkuat melalui pemeriksaan berkala, termasuk di lingkungan pendidikan.

Kemenkes juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam merespons temuan tersebut. Sekolah dinilai memiliki peran strategis dalam mendeteksi dini gejala depresi dan kecemasan pada peserta didik. Guru diharapkan mampu mengenali perubahan perilaku, penurunan motivasi belajar, hingga tanda-tanda emosional yang tidak biasa pada siswa.

Selain itu, pencatatan dan pelaporan yang sistematis diperlukan agar siswa yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan dapat segera dirujuk ke layanan kesehatan. Dengan intervensi yang lebih cepat, risiko gangguan berkembang menjadi kondisi yang lebih serius dapat ditekan.

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sendiri merupakan salah satu inisiatif pemerintah untuk memperluas akses pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh kepada masyarakat. Tidak hanya menyasar penyakit fisik, program ini juga mencakup aspek kesehatan jiwa yang selama ini kerap kurang mendapatkan perhatian.

Temuan ratusan ribu pelajar dengan gejala depresi dan kecemasan ini sekaligus menggambarkan tantangan besar di era modern. Tekanan akademik, dinamika sosial, hingga paparan digital menjadi faktor yang kerap disebut memengaruhi kondisi psikologis remaja. Meski demikian, pemerintah belum merinci faktor dominan penyebab tingginya angka tersebut dalam laporan awal ini.

Ke depan, data hasil skrining CKG 2025 akan menjadi dasar penyusunan kebijakan lanjutan, termasuk penguatan layanan konseling di sekolah dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam menangani masalah kesehatan mental anak dan remaja. Pemerintah juga berupaya memperluas literasi kesehatan mental agar stigma terhadap gangguan psikis dapat terus berkurang.

Dengan angka yang melampaui kelompok usia dewasa, temuan ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental pelajar perlu ditempatkan sebagai prioritas nasional. Deteksi dini, dukungan keluarga, peran sekolah, serta akses layanan yang memadai menjadi kunci untuk memastikan generasi muda Indonesia tumbuh secara sehat, tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental dan emosional.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Need Help?