Maret 18, 2026
Pelatihan Critical Thinking. Foto: Lomboknusa

Lomboknusa.id, Mataram – Radikalisasi online adalah proses adopsi pandangan ekstremis melalui internet, yang menargetkan individu rentan – terutama anak muda. Pada tahun 2025, BNPT mencatat 112 anak terpapar melalui ruang digital.

Ruang-ruang digital seperti media online dan game online menjadi ruang pertukaran berbagai macam ideologi, salah satunya adalah ideologi-ideologi yang dapat mengancam keutuhan bangsa dan negera, yakni radikalisme dan ekstremisme. Maraknya penyebaran paham radikalisme dan ekstremisme yang menyebar melalui platform digital ini menjadi perhatian serius dari berbagai pihak, salah satunya adalah Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Mataram yang bekerja sama dengan Lomboknusa.id. Dengan memiliki visi yang sama pada bidang literasi, KPI UIN Mataram dan Lomboknusa.id bekerjasama untuk mencegah radikalisasi online.

Bentuk kerjasama yang diselenggarakan oleh Prodi KPI UIN Mataram dan Lomboknusa.id adalah pelatihan critical thinking untuk meningkatkan nalar kritis dalam mengakses semua konten-konten dari platform digital. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dari berbagai aspek organisasi kemahasiswaan – Lembaga Dakwah Kampus, Lembaga Pers Mahasiswa dan Mahasiswa yang memiliki latar belakang keilmuan Teknologi Informasi. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, tanggal 13 Februari 2025 bertemakan Critical Media Literacy Programme (CMLP): Mitigasi dan Respon atas Radikalisasi Online.

Gemuh Surya Wahyudi, dosen Prodi KPI UIN Mataram menjelaskan CMLP merupakan sebuah model yang diinisiasi dapat meningkatkan literasi digital dengan tiga tahapan. “Terdapat tiga tahap dasar dalam menjalankan CLMP ini, pertama, critical analysis, tahap ini seseorang akan mengajukan pertanyaan klinis sebagai interpretasi untuk merefleksikan diri, semisal dengan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri – apa yang saya yakini? Bagaimana saya meyakininya? dan mengapa saya meyakininya? Kedua, media literacy is critical, setelah seseorang mengetahui jawaban dari pertanyaan pertama, seseorang didorong untuk mempelajari lebih jauh kenapa seseorang tersebut menghabiskan banyak waktu untuk mengkonsumi pesan-pesan tertentu dalam media. Ketiga, critical media literacy, tahap di mana seseorang mengidentifikasi lebih mendalam tentang kepemilikan media, bagaimana pesan diproduksi sampai didistribusikan serta bagaimana konteks dari pesan yang didistribusikan tersebut”. Pungkasnya.

Lamian, selaku Penaggung Jawab Lomboknusa.id sangat bangga dengan adanya kolaborasi seperti ini, karena merasa memiliki visi yang sama dengan Prodi KPI UIN Mataram, yakni dalam bidang literasi. “Kami bangga dengan kolaborasi seperti ini, apalagi ternyata kami memiliki nafas yang sama dengan Prodi KPI UIN Mataram, yakni sama-sama ingin memajukan literasi, khususnya literasi digital” tutupnya.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Need Help?