
Lomboknusa.id, New York – Setelah berminggu-minggu berada dalam situasi tegang, Amerika Serikat dan Iran akhirnya berhadapan langsung dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) di New York, Kamis (15/1/2026) waktu setempat. Sidang tersebut digelar di tengah ancaman serangan dari Washington dan sikap keras Teheran yang menolak tekanan internasional.
Pemerintah Amerika Serikat kembali melontarkan peringatan keras terhadap Iran, meski sebelumnya Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan pendekatan “menunggu dan melihat” terhadap situasi di negara tersebut. Sikap itu muncul seiring meningkatnya gelombang unjuk rasa di Iran sejak akhir Desember 2025, yang dipicu oleh kemerosotan ekonomi. Dalam laporan berbagai pihak, lebih dari seribu orang dikabarkan tewas akibat tindakan keras aparat keamanan terhadap para demonstran.
Dalam sidang DK PBB, Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz menegaskan agar Iran segera menghentikan tindakan kekerasan terhadap warganya sendiri. Washington menilai isu hak asasi manusia menjadi perhatian serius dan mendesak komunitas internasional untuk tidak tinggal diam.
Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah oleh pihak Iran. Wakil Duta Besar Iran untuk PBB, Gholamhossein Darzi, menegaskan bahwa negaranya tidak mencari eskalasi maupun konfrontasi dengan Amerika Serikat maupun negara lain.
Darzi justru menuding keterlibatan langsung AS berpotensi memperburuk situasi di dalam negeri Iran. Menurutnya, campur tangan Washington hanya akan mendorong kerusuhan menuju kekerasan yang lebih luas.
Ia juga menilai Amerika Serikat menggunakan isu kemanusiaan dan kepedulian terhadap rakyat Iran sebagai dalih politik. “Amerika Serikat berupaya menggambarkan diri sebagai teman rakyat Iran, sementara pada saat yang sama meletakkan dasar bagi destabilisasi politik dan intervensi militer dengan narasi yang disebut ‘kemanusiaan’,” ujar Darzi dalam forum tersebut.
Sementara itu, sejumlah negara anggota DK PBB menyerukan agar kedua pihak menahan diri dan mengedepankan jalur diplomasi untuk mencegah konflik terbuka yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Pertemuan darurat ini mencerminkan rapuhnya stabilitas hubungan AS–Iran, sekaligus menegaskan kekhawatiran internasional terhadap potensi eskalasi yang dapat berdampak pada keamanan global.






