Maret 25, 2026
Ribuan Lulusan S2–S3 Menganggur
Ilustrasi mahasiswa wisuda. (Foto: Google).

Lomboknusa.id, Jakarta: Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia mencatat fenomena mengkhawatirkan di pasar tenaga kerja nasional. Lebih dari 6.000 lulusan strata dua dan strata tiga dilaporkan menganggur dan bahkan berhenti mencari pekerjaan karena menghadapi hambatan struktural yang berulang dan sistemik.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengangguran tidak lagi identik dengan rendahnya tingkat pendidikan. Justru kelompok berpendidikan tinggi kini semakin rentan tersingkir dari pasar kerja formal. Kondisi ini memperlihatkan adanya paradoks pembangunan sumber daya manusia, di mana investasi pendidikan tinggi tidak berbanding lurus dengan peluang kerja yang tersedia.

Peneliti LPEM FEB UI menjelaskan bahwa sebagian besar lulusan pascasarjana menghadapi ketidaksesuaian antara kompetensi akademik dengan kebutuhan industri. Banyak sektor usaha dinilai belum mampu menyerap tenaga kerja dengan kualifikasi tinggi, sementara posisi yang tersedia menawarkan upah yang tidak sepadan dengan tingkat pendidikan dan pengalaman akademik.

“Banyak lulusan S2 dan S3 akhirnya memilih berhenti mencari pekerjaan karena upah yang ditawarkan jauh di bawah ekspektasi dan tidak mencerminkan investasi pendidikan yang telah mereka tempuh,” demikian salah satu temuan dalam laporan tersebut.

Selain persoalan upah, diskriminasi usia juga menjadi faktor signifikan. Lulusan pascasarjana yang menyelesaikan studi di usia lebih matang sering kali dianggap kurang kompetitif dibanding lulusan sarjana yang lebih muda, meskipun memiliki keahlian dan kapasitas analitis yang lebih tinggi. Situasi ini mempersempit ruang masuk mereka ke pasar kerja formal.

Baca Juga : Dosen Gugat UU Guru dan Dosen ke MK untuk Gaji Setara UMR

Data LPEM FEB UI juga mengungkap bahwa sebagian penganggur terdidik berasal dari bidang studi yang pertumbuhannya tidak sejalan dengan kebutuhan industri saat ini. Ketimpangan antara dunia pendidikan dan pasar kerja menyebabkan kelebihan pasokan tenaga kerja terdidik di sektor tertentu, sementara sektor lain justru kekurangan tenaga dengan keterampilan spesifik.

Fenomena ini berdampak langsung pada kondisi psikologis dan sosial lulusan. Rasa frustasi, kehilangan harapan, hingga keputusan untuk keluar dari pasar kerja menjadi konsekuensi lanjutan yang mengkhawatirkan. Kondisi tersebut mencerminkan melemahnya janji mobilitas sosial melalui pendidikan tinggi yang selama ini menjadi fondasi narasi pembangunan nasional.

LPEM FEB UI menilai, tanpa perbaikan kebijakan yang menyeluruh, pengangguran terdidik berpotensi meningkat seiring bertambahnya jumlah lulusan pascasarjana setiap tahun. Reformasi kurikulum, penguatan keterkaitan dengan industri, serta penciptaan lapangan kerja berbasis riset dan inovasi dinilai menjadi langkah mendesak.

Temuan ini sekaligus menjadi peringatan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan bahwa pembangunan pendidikan tinggi harus diiringi dengan strategi ketenagakerjaan yang adaptif. Tanpa itu, pendidikan tinggi berisiko kehilangan fungsinya sebagai jalan utama peningkatan kesejahteraan dan justru melahirkan generasi terdidik yang terpinggirkan di negeri sendiri.

About The Author

1 thought on “LPEM UI: Ribuan Lulusan S2–S3 Menganggur, Pasar Kerja Tak Ramah Pendidikan Tinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Need Help?