
Kebiasaan menggigit kuku (Foto: Ist)
Lomboknusa.id — Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebersihan dan perawatan diri, sebuah kebiasaan lama kembali menjadi sorotan: memotong kuku dengan gigi. Kebiasaan yang banyak dilakukan sejak masa kanak-kanak ini kini dipertanyakan keamanannya. Apakah benar-benar tidak apa-apa, atau justru berdampak buruk bagi kesehatan?
Meskipun banyak orang menganggapnya tidak sopan atau kurang higienis, menggigit kuku—termasuk memotongnya dengan gigi—masih merupakan perilaku yang cukup umum. Banyak individu mengatakan bahwa mereka melakukannya secara tidak sadar, terutama saat mengalami ketegangan, kebosanan, atau saat sedang merenung. Para ahli kesehatan sepakat bahwa memotong kuku dengan gigi sebaiknya dihindari. Hal ini bukan hanya berkaitan dengan aspek estetika, tetapi juga berhubungan dengan potensi risiko kesehatan.
Dalam perspektif Islam, aktivitas memotong kuku menggunakan gigi dianggap makruh, yang berarti dilarang oleh syariat tanpa adanya perintah tegas untuk menghindarinya. Meskipun tidak berdosa jika dilakukan, lebih baik untuk ditinggalkan, dan akan mendapatkan pahala jika tidak melakukannya.
Beberapa dampak yang bisa terjadi:
1. Bakteri dan Kuman Berpindah ke Mulut
Kuku merupakan area yang mudah terpapar kotoran dan mikroorganisme. Menggigit kuku memberikan jalur langsung bagi bakteri menuju mulut, yang dapat memicu infeksi ringan hingga gangguan pencernaan.
2. Risiko Infeksi pada Jari
Luka kecil akibat robekan kuku yang tidak rapi dapat menyebabkan peradangan atau infeksi lokal, termasuk paronychia—infeksi kulit di sekitar kuku.
3. Dampak pada Kesehatan Gigi
Gigi dirancang untuk mengunyah makanan, bukan memotong benda keras seperti kuku. Kebiasaan ini dapat menyebabkan gigi retak, enamel terkikis, hingga perubahan struktur rahang jika dilakukan terus-menerus.
Namun, apa sebenarnya yang menyebabkan sebagian orang tetap mempertahankan kebiasaan ini meskipun ada banyak peringatan tentang risikonya? Konsultan perilaku menjelaskan bahwa kebiasaan menggigit kuku sering kali terkait dengan perasaan kecemasan yang ringan, atau dapat juga dianggap sebagai kebiasaan kompulsif yang sulit dihindari. Banyak individu melakukannya sebagai cara untuk menyalurkan atau mengalihkan perhatian dari stres yang mereka alami, menjadikannya semacam mekanisme bertahan di saat stres.
Di sisi lain, ada juga orang yang menganggap menggigit kuku sebagai solusi praktis dan cepat saat mereka tidak memiliki akses ke alat pemotong kuku. Dalam situasi-situasi di mana mereka merasa tidak nyaman atau tertekan, tindakan ini bisa menjadi suatu perilaku otomatis yang mereka lakukan tanpa berpikir panjang, sehingga semakin memperkuat pola kebiasaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tindakan memotong kuku menggunakan gigi sebaiknya tidak dilakukan. Kegiatan ini bukanlah kebiasaan yang baik untuk dilakukan. Meskipun tampak sepele dan tidak berbahaya, dampak jangka panjang dari kebiasaan ini dapat menimbulkan berbagai masalah yang merugikan, baik untuk kesehatan mulut maupun untuk kebersihan tubuh secara keseluruhan.
Mengingat semakin meningkatnya tren gaya hidup sehat di masyarakat, diharapkan individu-individu mulai beralih dan mengadopsi kebiasaan perawatan diri yang jauh lebih higienis dan aman. Dengan cara ini, mereka tidak hanya menjaga penampilan, tetapi juga meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan.








1 thought on “Memotong Kuku dengan Gigi: Bahaya Tersembunyi dan Dampaknya terhadap Kesehatan”