
(Foto: Ist)
Lomboknusa.id, Apakah anda pernah merenungkan esensi sejati dari pendidik? Seringkali, pendidik dipandang sekadar sebagai alat untuk mengantarkan individu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik atau sebagai langkah berikutnya dalam perjalanan hidup. Namun, bagaimana jika kita menggali lebih dalam untuk menemukan tujuan pendidik yang lebih substansial: yakni sebagai pembebasan pikiran dan jiwa? Mari kita eksplorasi bagaimana pendidik membimbing untuk membebaskan diri dari batasan sosial dan mengembangkan pemikiran kritis yang diperlukan untuk menghadapi dunia yang terus berubah.
Menurut Ki Hajar Dewantara, seorang pendidik harus menjadi panutan bagi peserta didiknya. Selain itu, pendidik juga dituntut untuk mampu mengembangkan ide, memberikan motivasi, dan memberikan arahan kepada peserta didik. Pada dasarnya, pendidikan melampaui sekadar penguasaan fakta dan angka; Pendidik adalah tentang proses transformasi. Pendidik memberikan fondasi bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan dalam menantang norma yang ada, mempertanyakan keyakinan yang telah diterima, dan menyadari potensi perubahan dalam diri mereka serta dalam masyarakat. Kekuatan transformatif inilah yang menjadikan pendidik sebagai kunci untuk mencapai kemerdekaan peserta didik.
Terdapat perdebatan yang sengit mengenai peran pendidik dalam masyarakat. Sebagian orang berpendapat bahwa guru seharusnya bersikap apolitis, tidak membiarkan pengajaran mereka memengaruhi siswa untuk berpihak pada satu sudut pandang tertentu, dan seharusnya fokus pada fakta serta pengembangan keterampilan siswa, dengan tujuan mempersiapkan mereka secara akademis untuk masa depan. Sementara itu, ada pula yang beranggapan bahwa guru seharusnya menjadi pencerita kebenaran dan pembela, serta mengajarkan siswa dengan cara yang memungkinkan mereka untuk memahami dan mengambil tindakan berdasarkan pemahaman yang komprehensif tentang kebenaran.
Salah satu hadiah terpenting dari pendidikan yang berkualitas adalah pengembangan keterampilan berpikir kritis. Kemampuan ini memungkinkan individu untuk menganalisis informasi, membedakan fakta dari opini, dan mengambil keputusan yang bijaksana. Berpikir kritis memberi mereka kekuatan untuk melampaui manipulasi dan propaganda, serta mendorong pikiran yang bebas untuk membentuk ide dan pandangan mereka sendiri. Hal ini sejalan dengan konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yaitu Among dan Budi Pekerti.
Menurut Ki Hajar Dewantara, konsep among dalam pendidikan menekankan pada nilai-nilai budi pekerti yang diimplementasikan dalam sistem pembelajaran yang merdeka dan bersifat kekeluargaan, seperti:
- Merdeka: Sistem among memberikan kebebasan belajar kepada peserta didik, tanpa adanya paksaan atau hukuman.
- Berjiwa kekeluargaan: Sistem ini menekankan pada naluri alami anak dan dasar kemerdekaan.
- Nilai-nilai budi pekerti: Pendidik berperan sebagai teladan dalam perilaku dan budi pekerti.
Dalam sistem among, pendidik dikenal sebagai pamong yang memiliki tugas untuk membimbing dan menuntun peserta didik. Selain itu, pendidik juga perlu memahami berbagai aspek yang dapat mendukung peserta didik, seperti memberikan motivasi, rekomendasi, dan saran.
Saatnya bagi semua pendidik untuk bersedia menghadapi dan merubah pandangan mereka tentang arti menjadi seorang pendidik. Ini berarti mereka harus siap menolak gagasan-gagasan berbahaya yang sering kali tidak terkontrol mengenai peran mereka. Contoh gagasan berbahaya tersebut antara lain: keyakinan bahwa bersikap netral tidak memiliki risiko, bahwa pengajaran tidak berkaitan dengan politik, bahwa tidak masalah untuk tidak membedakan ras, serta bahwa pendidik seharusnya tidak terlibat dalam upaya antirasisme, keadilan sosial, atau isu-isu kontroversial lainnya.
Pendidikan merupakan perjalanan transformatif yang melampaui sekadar akumulasi pengetahuan. Ia merupakan sarana menuju pembebasan, yang memberdayakan individu dengan keterampilan berpikir kritis, kesadaran diri, dan kemampuan beradaptasi yang diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan hidup. Dengan melibatkan masyarakat, memanfaatkan teknologi, dan mengatasi hambatan akses, pendidikan dapat membebaskan individu dari ketergantungan dan kontrol, sehingga membuka jalan menuju kehidupan yang memuaskan dan mandiri. Selain itu, pendidik perlu mengakui, memahami, dan bertindak berdasarkan fakta bahwa sikap netralitas sangat merugikan. Seperti yang diungkapkan oleh Desmond Tutu, menjadi “netral berarti mendukung pembodohan.” Para pendidik, terutama kita yang memiliki hak istimewa untuk membentuk hati dan pikiran peserta didik, harus menyadari bahwa kita memiliki peran dalam mempertahankan kebodohan atau sebaliknya, menggunakan pengajaran kita untuk menghentikan, mengganggu, dan membongkar sistem pembodohan tersebut. Tidak ada konsep guru yang netral; kita harus dengan tegas dan penuh semangat memperhatikan sikap yang kita ambil terkait dengan pembodohan.








3 thoughts on “Menjadi Pendidik yang Memerdekan Peserta Didik”