
Perdebatan mengenai pengaruh urutan kelahiran terhadap kecerdasan kembali mencuat setelah sebuah studi internasional berskala besar menunjukkan bahwa anak pertama atau anak sulung, rata-rata, memiliki skor kecerdasan intelektual (IQ) sedikit lebih tinggi dibandingkan adik-adiknya. Temuan ini kembali ramai dibicarakan di ruang publik dan media sosial karena menyentuh pengalaman banyak keluarga, termasuk di Indonesia, yang kerap mengaitkan posisi anak dalam keluarga dengan kemampuan akademik dan intelektual.
Penelitian yang sering dijadikan rujukan utama dalam diskursus ini dipublikasikan pada 2015 dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS). Studi tersebut dilakukan oleh Julia M. Rohrer, Boris Egloff, dan Stefan C. Schmukle dengan menganalisis data lebih dari 20.000 responden dewasa dari Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman. Hasilnya menunjukkan pola yang relatif konsisten: anak sulung memiliki skor IQ rata-rata sekitar 1–2 poin lebih tinggi dibandingkan saudara kandung yang lahir setelahnya.
Meski selisih tersebut tergolong kecil dan tidak cukup untuk dijadikan ukuran mutlak kecerdasan seseorang, temuan ini dianggap signifikan secara statistik karena muncul berulang kali dalam berbagai dataset lintas negara. Dengan kata lain, efek urutan kelahiran terhadap IQ memang ada, meskipun skalanya terbatas dan tidak menentukan nasib intelektual seseorang secara menyeluruh.
Baca Juga : Menjadi Pendidik yang Memerdekan Peserta Didik
Para peneliti menegaskan bahwa perbedaan ini bukan disebabkan oleh faktor biologis seperti genetik atau kondisi kehamilan semata. Sebaliknya, faktor lingkungan keluarga dan dinamika pengasuhan dinilai lebih berperan. Anak sulung umumnya tumbuh dalam fase ketika perhatian orang tua masih sepenuhnya terfokus padanya. Pada masa awal kehidupan, ia menerima stimulasi kognitif yang lebih intens, baik melalui interaksi verbal, pendampingan belajar, maupun ekspektasi yang lebih tinggi dari orang tua.
Selain itu, ketika adik lahir, anak pertama sering kali mengambil peran tambahan sebagai “asisten kecil” dalam keluarga. Peran ini secara tidak langsung melatih kemampuan kognitif, tanggung jawab, serta keterampilan verbal karena anak sulung kerap diminta menjelaskan, mengajari, atau memberi contoh kepada adiknya. Proses ini diyakini turut memperkuat kemampuan berpikir dan pemahaman konseptual.
Namun demikian, para ahli mengingatkan agar temuan ini tidak disalahartikan secara berlebihan. Selisih IQ sebesar 1–2 poin berada dalam rentang yang sangat kecil dan tidak berdampak signifikan terhadap prestasi individu dalam kehidupan nyata. Banyak faktor lain yang jauh lebih menentukan, seperti kualitas pendidikan, kondisi sosial ekonomi, pola asuh, kesehatan, hingga motivasi personal.
Brigading Pemuda dalam Politik: Kuantitas Bukan Kualitas
Menariknya, penelitian yang sama juga membantah anggapan populer bahwa urutan kelahiran sangat memengaruhi kepribadian. Anak bungsu sering diasosiasikan dengan sifat pemberontak, anak tengah dianggap kurang diperhatikan, sementara anak sulung dilekatkan dengan karakter perfeksionis dan dominan. Namun, studi PNAS tersebut menemukan bahwa pengaruh urutan kelahiran terhadap ciri kepribadian utama—seperti keterbukaan, keramahan, atau stabilitas emosi—sangat kecil dan nyaris tidak signifikan.
Dalam konteks Indonesia, temuan ini relevan untuk dibaca secara kritis. Struktur keluarga di Indonesia masih banyak yang bersifat kolektif, dengan peran orang tua, kakek-nenek, hingga anggota keluarga besar yang turut terlibat dalam pengasuhan anak. Kondisi ini membuat distribusi perhatian dan stimulasi kognitif tidak selalu mengikuti pola keluarga inti seperti di negara Barat. Anak kedua atau ketiga dalam keluarga besar, misalnya, bisa saja mendapatkan dukungan belajar yang sama atau bahkan lebih besar dari lingkungan sekitarnya.
Selain itu, sistem pendidikan dan budaya belajar di Indonesia juga beragam. Faktor seperti akses terhadap pendidikan usia dini, kebiasaan membaca di rumah, serta dorongan akademik dari orang tua sering kali lebih menentukan perkembangan kognitif anak dibandingkan urutan kelahiran semata. Dalam keluarga yang sadar pendidikan, setiap anak memiliki peluang yang relatif setara untuk berkembang, terlepas dari apakah ia anak sulung, tengah, atau bungsu.
Psikolog pendidikan di Indonesia juga menekankan pentingnya menghindari pelabelan berbasis urutan kelahiran. Memberi stigma bahwa anak pertama “paling pintar” atau anak bungsu “kurang cerdas” justru berpotensi menimbulkan tekanan psikologis dan ketimpangan perlakuan dalam keluarga. Setiap anak memiliki potensi unik yang berkembang melalui proses panjang dan dipengaruhi oleh banyak variabel.
Dengan demikian, temuan ilmiah mengenai kecenderungan skor IQ anak sulung sebaiknya dipahami sebagai gambaran statistik populasi, bukan sebagai vonis individual. Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana lingkungan keluarga membentuk perkembangan kognitif, sekaligus mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam menciptakan iklim belajar yang adil dan suportif bagi semua anak.
Pada akhirnya, kecerdasan tidak hanya diukur melalui angka IQ, melainkan juga melalui kemampuan berpikir kritis, kreativitas, empati, dan adaptasi sosial. Urutan kelahiran mungkin memberikan pengaruh kecil, tetapi kualitas pengasuhan dan kesempatan belajar tetap menjadi faktor utama dalam membentuk generasi yang cerdas dan berdaya saing.






