
Lomboknusa.id, Sumatra: Bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh terus menimbulkan kerugian jiwa yang masif. Hingga Selasa (2/12) pukul 16.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan data yang mencerminkan peningkatan eskalasi tragedi, di mana total korban meninggal dunia kini mencapai 753 orang.
Angka ini bukanlah akhir. Laporan BNPB juga mencatat bahwa 526 orang lainnya masih dinyatakan hilang, menyisakan kecemasan mendalam bagi keluarga korban. Data terbaru ini menunjukkan kenaikan signifikan dari laporan empat jam sebelumnya (pukul 12.00 WIB), yang saat itu mencatat 631 korban tewas dan 472 orang hilang.
Di tengah upaya yang tiada henti, Tim SAR gabungan berjuang menembus wilayah-wilayah yang perlahan mulai terbuka setelah sempat terisolasi. Medan yang sulit, berupa hamparan lumpur tebal bercampur serpihan kayu dan material bangunan, menjadi tantangan terbesar yang memperlambat proses evakuasi.
Menyadari kompleksitas lapangan, operasi pencarian diperkuat dengan kehadiran anjing pelacak K9. Hewan-hewan terlatih ini dikerahkan untuk mempercepat penemuan jasad yang tertimbun di bawah timbunan material berat.
Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa penggunaan anjing pelacak adalah keniscayaan.
“Kondisi medan yang sangat sulit, ditambah lumpur yang mulai mengering dan mengeras, membuat proses evakuasi berjalan sangat menantang,” ujar Syafii.
Ia juga menambahkan bahwa timnya membutuhkan anjing pelacak. “Kami membutuhkan anjing pelacak mengingat kompleksitas dan kondisi korban yang tertimbun material yang tidak ringan.”
Syafii menegaskan komitmen tim gabungan. Operasi pencarian dipastikan akan terus dilanjutkan dan tidak akan dihentikan hingga seluruh korban yang dilaporkan hilang dapat ditemukan, dalam pertarungan sengit melawan waktu dan kondisi alam yang ekstrem.






