
Lomboknusa.id, Mataram — Epic Lombok Coffee Week (ELCW) yang berlangsung pada 2-5 April 2026, tidak hanya mencatatkan transaksi lebih dari Rp2 miliar dan menarik lebih dari 19.000 pengunjung, tetapi juga menghadirkan fenomena menarik, yakni keterlibatan kuat akademisi Magister Perencanaan Kepariwisataan (MPK) Universitas Mataram dalam perencanaan dan pelaksanaan event tersebut.
Berbeda dari anggapan umum yang memisahkan dunia akademik dan industri, ELCW menjadi contoh konkret integrasi keduanya. Capaian event ini dinilai sebagai hasil dari perencanaan strategis yang disusun oleh akademisi muda yang terjun langsung ke lapangan.
Inisiator kegiatan, Bagus Krishna Adhitria, mahasiswa aktif S2 MPK Unram, berhasil mengonsolidasikan peran alumni dan praktisi dalam satu kolaborasi. Ia bekerja bersama sejumlah figur yang telah dikenal di industri kopi lokal, seperti Afwan Abrory, founder Ace Group, serta Joey Malvine yang terlibat dalam sesi cupping pada kegiatan tersebut.
Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana pendekatan berbasis riset dan perencanaan mampu diterapkan secara nyata dalam pengembangan industri kreatif, khususnya sektor kopi di Lombok.
“Kami ingin memutus stigma bahwa mahasiswa S2 hanya berkutat dengan tesis di perpustakaan. ELCW adalah laboratorium hidup kami. Di sini, teori perencanaan pariwisata dan ekonomi kreatif kami uji langsung di hadapan publik,” ujar Bagus Krishna.
Keterlibatan akademisi muda tersebut juga mendapat dukungan dari sejumlah tokoh industri, seperti Qwadru selaku General Manager Geopark Rinjani Lombok dan Sutrisno dari Arimbi Coffee. Dukungan ini memperkuat legitimasi konsep yang diusung sekaligus menunjukkan tingginya kepercayaan terhadap gagasan yang dibangun.
Melalui kolaborasi dengan 20 coffeeshop lokal, ELCW dinilai berhasil menciptakan dampak ekonomi yang signifikan sekaligus memperkuat posisi kopi sebagai bagian dari pengembangan pariwisata perkotaan di Lombok.
Keberhasilan ini menjadi indikator penting bahwa sinergi antara mahasiswa, alumni, dan praktisi dapat menjadi kunci dalam mendorong percepatan pertumbuhan industri kreatif di Nusa Tenggara Barat.





