
Lomboknusa.id, Mataram – Polemik pembubaran kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi di lingkungan Universitas Mataram memantik perhatian sejumlah kalangan akademisi. Dosen Unram sekaligus mantan aktivis 1998, Abah Muazar Habibi, menilai dinamika tersebut perlu disikapi secara bijak agar tidak memperlebar jarak antara mahasiswa dan birokrasi kampus.
Menurut Muazar, kampus pada hakikatnya merupakan ruang tumbuhnya kebebasan berpikir dan tradisi intelektual. Karena itu, setiap bentuk ekspresi mahasiswa seharusnya diarahkan menjadi ruang pembelajaran yang sehat dan produktif.
“Lingkungan kampus harus tetap menjadi ruang dialektika. Ketika ada kegiatan yang dianggap sensitif, maka pendekatan akademik dan dialog terbuka lebih penting dikedepankan,” ujarnya.
Ia mengaku telah melakukan komunikasi dan tabayun dengan pimpinan universitas, termasuk Wakil Rektor III Unram, untuk memahami konteks persoalan secara lebih menyeluruh.
Kampus Dinilai Perlu Kedepankan Pendekatan Persuasif
Muazar berpandangan bahwa langkah pembubaran kegiatan berpotensi memunculkan kesalahpahaman baru apabila tidak disertai ruang komunikasi yang memadai. Ia menilai persoalan semacam ini semestinya dapat diselesaikan melalui argumentasi ilmiah dan forum diskusi.
Menurutnya, jika sebuah karya atau film dianggap kontroversial, maka cara terbaik untuk menilainya adalah melalui kajian terbuka yang melibatkan akademisi maupun mahasiswa.
“Diskusi ilmiah jauh lebih elegan dibanding tindakan yang justru menimbulkan kegaduhan baru di ruang publik,” katanya.
Meski demikian, ia juga memahami bahwa pihak kampus memiliki kewajiban menjaga ketertiban dan stabilitas lingkungan akademik. Persoalan administratif seperti izin kegiatan dan teknis pelaksanaan disebut menjadi bagian yang tidak dapat diabaikan.
Nobar Dianggap Lebih Tepat Dikemas dalam Kajian Akademik
Muazar menilai kegiatan nobar akan memiliki nilai edukatif lebih tinggi apabila dikemas secara formal dalam bentuk forum akademik. Ia mencontohkan kegiatan dapat dibuat dalam format bedah film atau kajian sosiologis dan yuridis dengan menghadirkan narasumber yang kompeten.
Dengan konsep seperti itu, menurutnya, mahasiswa tidak hanya menonton, tetapi juga mendapatkan ruang analisis dan pendalaman isu secara ilmiah.
“Kalau dibuat dalam format kajian resmi di auditorium dengan menghadirkan pakar, substansi intelektualnya akan jauh lebih kuat,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun komunikasi dua arah antara aktivis mahasiswa dan birokrasi kampus. Menurutnya, sering kali terjadi perbedaan cara pandang karena mahasiswa bergerak secara dinamis, sedangkan birokrasi bekerja berdasarkan aturan administratif.
Dialog Dinilai Jadi Solusi Terbaik
Dalam pandangannya, pendekatan dialogis menjadi jalan tengah yang dapat mempertemukan kepentingan kedua belah pihak. Kampus, kata dia, dapat mengambil peran sebagai fasilitator agar kegiatan mahasiswa tetap berjalan dalam koridor akademik.
“Kalau prosedurnya belum lengkap, bisa diarahkan untuk dijadwalkan ulang secara resmi. Itu akan lebih membangun daripada langsung dibubarkan,” ujarnya.
Muazar juga mengajak mahasiswa untuk tetap mengedepankan intelektualitas dalam setiap gerakan yang dilakukan. Ia menilai mahasiswa perlu hadir sebagai kelompok kritis yang menawarkan gagasan dan analisis, bukan sekadar mengejar perhatian publik.
Selain itu, ia mengingatkan seluruh pihak agar tidak terburu-buru memberikan penilaian tanpa memahami persoalan secara utuh. Menurutnya, semangat literasi dan budaya membaca konteks harus menjadi bagian penting dalam kehidupan akademik.
Ia berharap polemik pembubaran nobar film dokumenter Pesta Babi dapat menjadi pembelajaran bersama untuk memperkuat budaya dialog dan tradisi intelektual di lingkungan kampus.
“Momentum ini seharusnya menjadi ruang evaluasi bersama agar kampus tetap menjadi tempat bertemunya gagasan secara dewasa dan bermartabat,” tutupnya.





